Renungan Harian
Dua Insan Satu Perasaan

1 Korintus 6:12-20; Amsal 6:24-32

Atau tidak tahukah kamu, bahwa siapa yang mengikatkan dirinya pada perempuan cabul, menjadi satu tubuh dengan dia? Sebab, demikianlah kata nas: "Keduanya akan menjadi satu daging."

(1 Korintus 6:16)

 

Peristiwa bersatunya dua insan berlainan jenis di depan altar dengan janji yang penuh warna cinta kasih yang membara adalah peristiwa vang indah untuk dikenang, terlalu manis untuk dilupakan, dan terlalu sayang bila kemesraan itu diakhiri. Bersatunya dua insan oleh cinta dan kasih yang tulus akan menyatukan perasaan keduanya untuk saling menjaga dan saling melayani satu dengan yang lainnya. Tetapi sayang beribu sayang bila ada rumah tangga yang di kemudian hari menjadi tidak harmonis atau berakhir dengan penyesalan.

Setiap orang ingin mendapatkan pasangan yang baik, tetapi pasangan yang baik belum tentu adalah pasangan yang benar. Pasangan yang baik dan benar hanyalah ada di dalam Kristus dan yang sesuai dengan kehendakNya. Untuk itu setiap orang harus mengendalikan dirinya agar tidak dibutakan pesona fisik atau materi dalam memilih pasangan hidup.

Janji pernikahan Kristen merupakan janji yang mengikat sepasang kekasih menjadi satu daging. Dengan kata lain keduanya telah membuat janji yang mengikat untuk saling menjaga dan saling melayani, bukan untuk saling menyesali.

Dengan bersatunya dua insan dalam ikatan pernikahan berarti keduanya telah masuk ke dalam panggilan untuk saling melayani dalam senasib sepenanggungan. Melayani pasangan oleh cinta kasih bukan hanya dalam bentuk materi, tetapi juga lahir dan batin. Jika seseorang memiliki karakter buruk, maka tugas pasangannyalah membimbingnya; ketika pasangan seseorang dalam kelemahan maka tugas pasangan orang itulah untuk menjadi penopangnya; ketika seseorang dicela maka pasangannyapun akan merasa sakit, sebab pasangannya adalah bagian dari hidupnya untuk saling mengisi di dalam kasih untuk mengasihi orang yang dijaga olehnya, tanggungjawabnya oleh janji kasih di hadapan Allah untuk saling membangun. Memburukkan pasangan di hadapan orang lain berarti memburukkan pilihan diri sendiri.

 

Renungan :

Cinta kasih yang tulus merupakan modal awal yang baik dalam membentuk suatu rumah tangga. Tetapi yang memampukan orang untuk memiliki kasih yang tulus dalam mencintai seseorang hanya Allah saja. Sebab itu setiap rumah tangga harus memiliki hubungan yang akrab dengan Allah, sebab Dia adalah sumber segala kebahagiaan sejati.

 

Pastikan ada Yesus dalam hubunganmu dengan pasanganmu.