Renungan Harian
Taatilah !

Kisah Rasul 27:1-13; Yehezkiel 33:4

”Saudara-saudara, aku lihat, bahwa pelayaran kita akan mendatangkan kesukaran-kesukaran dan kerugian besar, bukan saja bagi muatan dan kapal, tetapi juga bagi nyawa kita. Tetapi perwira itu lebih percaya kepada jurumudi dan nakhoda dari pada kepada perkataan Paulus.”

(Kisah Rasul 27:10,11)

Dalam sebuah pelayaran Paulus telah memberikan peringatan akan datangnya badai. Mudahkah orang percaya? Oh jelas tidak! Langit cerah dan tidak ada tanda-tanda akan datangnya badai, kok mau percaya sama tukang ngigau yang mengatakan tentang datangnya badai? Para penumpang lebih percaya kepada anak buah kapal, bahkan di dalam ayat 11, mereka lebih percaya kepada juru mudi dan nakhoda dari pada perkataan Paulus. Alhasil, ayat 14 menjelaskan, mereka tetap melanjutkan perjalanan dan dalam perjalanan itulah mereka menjumpai angin badai.

Yang menjadi pertanyaannya adalah, darimana datangnya badai? Itu datang karena kesalahan kita yang tidak mau dengar-dengaran!

Ya, seringkali badai itu datang karena kita ciptakan sendiri. Namun begitu seringnya kita berkata kalau badai itu datang dari ini dan itu, padahal kitalah yang menciptakan sendiri.

Dalam Lukas 15 diceritakan tentang anak yang terhilang. Saat anak yang bungsu ini datang kepada ayahnya, dia minta harta bagian kepada ayahnya.

Setelah ayahnya memberikan apa yang menjadi hak dari anak ini, anak ini lalu meninggalkan ayahnya, termasuk meninggalkan kampung halamannya. Alkitab katakan, di tempat perantauan, dia berfoya-foya. Dia memuaskan seluruh hawa nafsunya dan menghamburkan semua harta bendanya sampai habis, sehingga akhirnya ia jatuh miskin. Dan untuk melepas rasa laparnya, dia harus makan makanan babi. Anak bungsu ini mengalami kesulitan yang besar. la telah menciptakan badai sendiri. la melakukan kesalahan yang berakibat datangnya badai. Sebenarnya kalau saja ia tidak memberontak dan meninggalkan rumah ayahnya, dia tidak akan terserang badai. la akan tetap menikmati kehidupan yang nyaman bersama dengan ayahnya. Namun syukurlah, dia sadar dan kembali ke rumah ayahnya.

 

Renungan :

Kalau saja kita mau mendengarkan suara Tuhan dan taat kepadaNya, kita tidak akan tertimpa musibah. Tetapi kalau toh sudah terjadi, bertobatlah dan berjanjilah untuk selalu dengar-dengaran firman Tuhan.

 

Ketika Tuhan berbicara, adakah telinga yang mendengar dan mentaatiNya?