Renungan Harian
Jangan Tendang Galah

Kisah Rasul 26:12-23; Mazmur 103:21

”Kami semua rebah ke tanah dan aku mendengar suatu suara yang mengatakan kepadaku dalam bahasa Ibrani : Saulus, Saulus, mengapa engkau menganiaya Aku ? Sukar bagimu menendang ke galah rangsang.”

(Kisah Rasul 26:14)

 

Apa artinya “menendang ke galah rangsang"? Orang Yahudi biasanya menggunakan lembu untuk membajak tanah. Dan orang yang berada di belakangnya biasanya menggunakan bambu yang ujungnya telah diruncingi untuk mengendalikan lembu tersebut. Jika lembu itu tidak mau diatur atau dikendalikan, maka ia akan menendangi galah rangsang atau bambu runcing tersebut, namun tindakan itu justru membuat binatang itu makin menderita, bahkan berdarah-darah. Dan Kristus menggunakan peribahasa ini, dengan maksud mengatakan, bahwa bila Paulus terus melanjutkan perjalanan dan menganiaya Dia dan umat-Nya, menentang Injil-Nya... ia akan menemukan dirinya sendiri... lebih menderita lagi oleh karenanya.

Dan kenyataannya banyak orang yang sekarang ini sedang menendang ke galah rangsang. Mereka tidak peduli dengan peringatan Tuhan dan selalu melawan Tuhan. Mereka mendengarkan khotbah-khotbah yang keras, dan khotbah-khotbah menyakitkan mereka, karena memang galah rangsang itu harus ditusukkan untuk meluruskan jalan hidup mereka pada Kehendak Tuhan. Namun mereka terus menendang khotbah-khotbah tentang hukum Allah, yang menghakimi mereka sebagai orang berdosa. Dan mereka telah menendang teguran Roh Kudus yang menginsafkan, ketika la datang kepada mereka untuk menginsafkan mereka akan dosa-dosa mereka. Mereka telah meremehkan dan menghalau karya penginsafan Roh Kudus dengan menendang dan menentang Dia, ketika la mendorong hati nurani mereka untuk menunjukkan kepada mereka tentang pemberontakan mereka.

Tetapi orang yang mau ditegur dan diperbaiki hidupnya akan menikmati berkat Tuhan yang luar biasa. Saulus (nama lama Paulus) yang mengalami hal ini akhirnya pasrah kepada kehendak Tuhan. la mau disadarkan. la mau diluruskan. la mau menerima firman Tuhan dengan lemah lembut dan taat kepada firman itu. Ia tidak mau terus menerus menendang galah rangsang yang justru akan membuatnya semakin menderita.

 

Renungan :

Apakah kita sedang menendang ke galah rangsang? Apakah berkali-kali Roh Kudus mencoba menginsyafkan kita, namun kita masih saja tidak mau berbalik? Jangan menendang ke galah rangsang, itu pasti akan membuat kita semakin menderita.

 

Semakin kuat menendang galah rangsang, semakin berat penderitaanmu.