Renungan Harian
Mari Berapologetik

Kisah Rasul 26:1-11; Amsal 2:6

”Kata Agripa kepada Paulus : ”Engkau diberi kesempatan untuk membela diri.” Paulus memberi isyarat dengan tangannya, lalu memberi pembelaannya seperti berikut”

(Kisah Rasul 26:1)

Berbicara tentang kerukunan umat beragama, Yesus mengajarkan untuk mengasihi sesama manusia itu benar. Penginjilan tidak harus melalui deklarasi tapi dari interaksi itu benar. Namun pikirkan dengan seksama. Kita memang harus menjaga toleransi, dan boleh-boleh saja kita menyebarkan Injil dengan cara sosialis, tapi dengan terus-menerus berbuat demikian sebenarnya keselamatan jiwa-jiwa terancam. Kita sama saja dengan membiarkan mereka bebas berjalan di atas tol menuju neraka. Tidak ada paksaan untuk percaya bagi mereka, tapi bukan berarti tidak ada tanggung jawab di hadapan Tuhan nanti. Tidak ada alasan untuk tidak mewartakan Injil, kita berhak dan berkewajiban pula untuk berapologetik ketika iman percaya kita dicoba digoyang oleh pihak lain!

Kalau kita membaca dalam wikipedia, kita menemukan arti apologetik. Apologetik berasal dari kata Yunani apologia yang bermakna "membela iman".

Tanpa sadar sebenarnya ketika kita berbicara dengan orang lain yang tidak sama keyakinan dengan kita, tanpa sadar sebenarnya kita sudah berapologetik. Kita mencoba mempertahankan pendapat kita. Tetapi sayang, seringkali orang Kristen tidak dibekali dengan pengetahuan yang cukup. Untuk itu kita harus belajar supaya pengetahuan kita bertambah. Memang, urapan Roh Kudus itu sangat penting, tetapi jangan lupa bahwa pengetahuan itu juga penting. Kalau kedua disatukan maka dengan efektif kita bisa menjadi penginjil yang berhasil.

Lihatlah bagaimana Paulus juga mengalami hal yang sama. Ketika ia ditawan dan dihadapkan dengan Raja Agripa, ia harus berapologetik dan menjelaskan dasar-dasar dari pertobatannya. Bahkan dikatakan kalau Raja Agripa itu hampir-hampir menjadi orang Kristen (Kisah Rasul 26:28). 

Saudaraku, jadilah orang Kristen yang bisa mempertanggungjawabkan kebenaran firman Tuhan kepada orang-orang di sekitar kita. Debat kusir memang harus dijauhi, tetapi menjelaskan tentang iman kita kepada mereka tentunya membutuhkan kiat khusus dalam berapologetik.

 

Renungan :

Marilah menjadi orang Kristen yang penuh dengan urapan sekaligus yang memiliki pengetahuan yang luas, supaya jika ada orang yang bertanya kepada kita, kita bisa mempertanggungjawabkan iman kita.

 

Sampaikan kebenaran firman Tuhan dengan kasih.