Renungan Harian
Karakter Memberitakan Injil

Kisah Rasul 5:17-25; Yesaya 52:7

Tetapi datanglah seorang mendapatkan mereka dengan kabar: "Lihat, orang-orang yang telah kamu masukkan ke dalam penjara, ada di dalam Bait Allah dan mereka mengajar orang banyak."

(Kisah Rasul 5:25)

 

Gereja memiliki tanggung jawab untuk memberitakan Injil. Dari abad ke abad tugas ini dilakukan oleh gereja. Tetapi gereja mula-mula memiliki 3 ciri khas karakter memberitakan Injil. Apa saja itu?

Pertama, karakter ketaatan. Ayat 19-21 katakan, "Tetapi waktu malam seorang malaikat Tuhan membuka pintu-pintu penjara itu dan membawa mereka keluar, katanya: "Pergilah dan berdirilah di Bait Allah dan beritakanlah seluruh firman itu kepada orang banyak." mereka mentaati pesan itu, dan menjelang pagi masuklah mereka ke dalam bait Allah, lalu mulai mengajar disitu." Para rasul taat akan perintah Allah yang dipesankan melalui seorang malaikat Tuhan. ketaatan adalah kunci keberhasilan kita untuk mengiring Yesus. Banyak orang gagal dalam karakter yang penting ini.

Kedua, karakter keberanian. Keberanian yang dimaksud adalah suatu keberanian untuk bertindak atas dasar perintah Tuhan. Padahal kita tahu sebelumnya murid-murid Tuhan hidup dalam ketakutan ketika Yesus ditangkap (Yohanes 20:19). Tetapi murid-murid Tuhan memiliki keberanian untuk berkhotbah di depan umum (Kisah Rasul 5:21). Setelah mereka ditangkap lagi kemudian dilepaskan, mereka tetap saja memberitakan Injil di bait Allah (ay. 42).

Ketiga, karakter kesungguhan. Kesungguhan para rasul/ murid dalam hal pemberitaan Injil adalah salah satu faktor pertumbuhan gereja mula-mula. Dengan kata lain mereka serius menanggapi panggilan Tuhan untuk menyebarkan kabar baik tersebut. Setiap program yang mereka bicarakan adalah tentang memenangkan jiwa-jiwa yang terhilang. Mereka berbincang-bincang juga tentang cara-cara untuk memenangkan jiwa bagi Tuhan. Sangat ironis kalau gereja zaman sekarang tidak lagi melakukan penginjilan dengan serius.

 

Renungan :

Selama Yesus belum datang kembali untuk yang kedua kalinya, kita masih bertanggung jawab untuk memberitakan Injil. Mengapa kita harus takut kalau ini adalah Amanat Agung dari Tuhan kita? Bukankah Dia berjanji untuk tidak meninggalkan kita ?

 

Injil adalah berita baik yang mau menerima, sekaligus berita hukuman bagi yang menolak.