Daily Devotion
Ketika Anda Ditolak

Lukas 2:1-7; Yeremia 31:3

” . . dan ia melahirkan seorang anak laki-laki, anaknya yang sulung, lalu dibungkusnya dengan lampin dan dibaringkannya di dalam palungan, karena tidak ada tempat bagi mereka di rumah penginapan.”

(Lukas 2:7)

 

Di saat Yesus lahir untuk menyelamatkan umat manusia, banyak sekali penolakan yang dilakukan oleh masyarakat. Diawali sejak Yesus dilahirkan, Dia mengalami penolakan, yakni masyarakat tidak memberi tempat kepada Maria, untuk melahirkan Yesus. Hal seperti itu berlangsung terus-menerus. Namun Tuhan Yesus sama sekali tidak merasa tertolak. Malahan dengan adanya hal-hal seperti itu, Tuhan Yesus bertambah umur dan bertambah dewasa dengan tidak adanya rasa tertolak atau kegetiran pengalaman terhadap orang-orang di sekelilingNya. Tuhan Yesus tetap mengasihi orang-orang di sekitarNya. KasihNya tidak ternodai dengan adanya penolakan, karena itu Dia rela disalibkan untuk menebus dosa orang-orang yang menolakNya. Kasih yang seperti itu pulalah yang diberikan kepada kita sebagai anak-anakNya.

Saudara, saat orang-orang di sekitar mulai menolak kita, reaksi apakah yang kita berikan? Jika kita dikondisikan untuk mengalami hal-hal seperti yang dialami Tuhan Yesus, maka respon yang bagaimana yang secara alami muncul dalam diri kita? Rasa tertolak akan mengakibatkan karakar kegetiran sehingga membuat seseorang merasa rendah diri atau tidak percaya diri.

Di kehidupan masyarakat seringkali terjadi, bahwa ada orang tua atau seorang ibu yang tidak menghendaki anaknya lahir. Dia berusaha sekuat tenaga untuk menggugurkan kandungannya. Namun, apabila Tuhan tetap menghendaki anak tersebut lahir, maka lahirlah si bayi tersebut. Namun, rasa tertolak itu akan tetap terbawa dalam kehidupan anak tersebut. Jadi, di saat-saat orang tuanya tidak senang atas kehadiran si anak, bahkan sudah sejak dari kandungan pun si bayi dapat merasakannya. Terlebih lagi apabila saat anak tersebut dilahirkan, orang tuanya merasa kesal, sebab usahanya untuk menggugurkannya tidak berhasil. Di situlah timbul rasa adanya penolakan-penolakan yang akan dapat berdampak bagi pertumbuhan mental si anak. Rasa tertolak tersebut akan membuat ia rendah-diri, tidak dapat berbuat maksimal. Yang paling berbahaya adalah bila anak tersebut menyimpan akar kegetiran terhadap orangtuanya sendiri.

 

Renungan :

Saudara, marilah kita memohon agar Tuhan Yesus sendirilah yang melepaskan akar kepahitan hidup kita. Ingat, bahwa ketika di sekeliling kita menolak kita, mengecam kita, maka ada satu Pribadi yang tidak pernah menolak kita. Pribadi yang lembut dan penuh kasih, yang selalu ada di dalam diri kita, dan selalu memberikan hiburan di saat kita sedih karena penolakan itu. Pribadi tersebut adalah Tuhan Yesus.

 

Yesus sanggup membalut luka-luka batin akibat ketertolakan itu.