Renungan Harian
Dengarkanlah Dia

Markus 12:35-37; Yesaya 30:15

”Daud sendiri menyebut Dia Tuannya, bagaimana mungkin Ia anaknya pula? Orang banyak yang besar jumlahnya mendengarkan Dia dengan penuh minat.”

(Markus 12:37)

 

Dulu orang mengira bahwa bumi ini datar dan ditopang oleh tiang-tiang raksasa, sehingga orang yang telah mencapai tepian bisa terjungkal ke dalam jurang yang amat dalam. Dulu orang juga mengira bahwa matahari yang mengitari bumi. Namun setelah ilmu pengetahuan berkembang dan manusia mempunyai kemampuan mengeksplorasi lebih dalam, ternyata semua teori dan anggapan itu salah!

Saudara, seharusnya para ahli Taurat itu memahami betul tentang Taurat mereka. Kemampuan mereka tentang hukum-hukum Tuhan tidaklah diragukan lagi. Namun masih ada selubung yang menutupi mata mereka sehingga mereka tidak melihat kebenaran di hadapannya. Mereka mencoba menggunakan logika mereka dalam mengolah suatu persoalan rohani yang pelik: "Bagaimana mungkin Yesus disebut Anak Daud, sementara Daud sendiri menyatakan bahwa Yesus adalah Tuannya?"

Memahami sebuah masalah rohani tidak selalu bisa dilogika. Tuhan itu tidak tinggal dalam logika manusia. Tuhan itu tidak bekerja sesuai dengan hikmat manusia. Hikmat Allah itu terlalu tinggi dan dalam bagi manusia. Tetapi la telah menyatakannya kepada kita sehingga kita dapat memahami kebenaran ini.

Namun masih saja kita kesulitan mengolah sebuah peristiwa menurut pemikiran kita. Ketika sebuah musibah menimpa kita dan ketika doa kita seperti tidak dijawab, atau ketika penyakit belum disembuhkan. Dan pengharapan yang sudah habis itu semakin tererosi oleh keadaan ini, sehingga dengan bulat kita memutuskan untuk tidak lagi berjalan dengan hikmat Allah. Batas kesabaran kita sepertinya sudah tertumpah keluar semuanya.

Saudaraku, pahamilah Allah dengan pengertian dan hikmat Roh Kudus. Kita tidak bisa memahami berbagai kerumitan itu dengan membawa kalkulator dan berbuku-buku rumus matematika di depan kita. Namun ketika kita berdiam diri di hadapan Tuhan, dan ketika Dia mulai menjelaskan kepada kita, dan telinga serta hati kita terbuka untuk suaraNya, maka selubung kebodohan kita itu akan terbuka dan kita segera berteriak, "Haleluya, aku menerima roh hikmat dan wahyu itu...."

 

Renungan :

Semakin kita menggunakan logika untuk memahami pekerjaan Allah. Kita akan semakin terjepit dalam himpitan frustrasi. Pahamilah Dia di tempat yang sunyi dan percayalah akan suara-Nya. 

 

Pahamilah Tuhan di kamar kita yang sunyi itu, dan dengarkanlah Dia.