Renungan Harian
Menjadi Batu Hidup

Markus 12:1-12; Mazmur 118:22

”Tidak pernahkah kamu membaca nas ini: Batu yang dibuang oleh tukang-tukang bangunan telah menjadi batu penjuru.”

(Markus 12:10)

 

Saudara, batu bangunan itu dapat berdiri teguh karena ada dasarnya (pondasi) yang teguh. Tanpa dasar yang teguh, bangunan itu akan runtuh, walau hanya dihembus angin tidak seberapa kencang. Demikian pula dengan kehidupan kita tidak akan dapat berdiri kokoh dan teguh tanpa dasar yang kuat. Lalu, siapa dasar kita ? Tidak lain ialah Yesus Kristus, sang batu penjuru itu. Dalam Mazmur 118:22, dikatakan “Batu yang dibuang oleh tukang-tukang bangunan telah menjadi batu penjuru”

Yesus Kristus adalah Sang Batu Penjuru. Dia yang akan menopang kita, asal saja kita mau untuk diperbaharui. Dari batu yang berbeda ukuran, yang berbeda bentuknya, untuk dapat digabungkan dan disatukan menjadi bangunan yang indah. Kadangkala batu tersebut harus dipatahkan atau akan dihancurkan. Demikian juga kita sebagai manusia. Ada bagian-bagian tertentu dari kata yang harus dipatahkan. Mungkin bentuknya berupa iri hati, dendam, mungkin pula berupa kebencian dan sebagainya. Agar kita benar-benar diperbaharui untuk bertumbuh dan menjadi “batu yang hidup”.

Perkataan rasul Petrus dalam 1 Petrus 2:5 menyatakan : “Menjadi batu hidup bagi pembangunan rumah rohani.” Dalam konteks itu, maka dapat disimpulkan, bahwa orang percaya perlu mengoreksi diri atau perlu mereformasi diri.

Kita ini merupakan batu-batu milik Allah. Namun belum diletakkan pada bangunanNya secara tepat, apakah kita dapat menambah berat dan memberi kekuatan jika sudah diletakkanNya, atau sebaliknya. Kalau sudah diletakkan, maka kita akan mengetahui batu-batu mana saja yang ada di bawah kita dan bagaimana kita saling mendukung, saling membutuhkan dan saling berhubungan satu dengan lainnya, dan tidak ada yang berusaha mementingkan diri sendiri. Sebab sebutir batu yang tersingkir di tepi jalan, tanpa bergabung satu dengan lainnya, maka batu itu tidak bermanfaat sama sekali. Terkecuali digunakan hanya untuk melempar anjing atau kucing ! Gereja-gereja seharusnya adalah demikian. Kita tidak harus senantiasa mempertahankan bendera kita. Padahal kita adalah satu warga, yaitu warga kerajaan sorga. Kita hanya perlu mempertahankan tembok kita masing-masing, agar tatkala digabung dan dipersatukan, akan benar-benar utuh sebagai suatu bangunan.

 

Renungan :

Pertanyaannya sekarang adalah bagaimana kita bisa menjadi batu hidup bagi pembangunan rohani ? Apakah kita siap dipakai sebagai batu hidup ? Tuhan ingin agar kita jangan manjadi batu sandungan bagi orang lain, supaya berkat selalu turun atas kita.

 

Jadilah batu hidup, bukannya batu sandungan.