Renungan Harian
Tanah Yang Baik

Matius 13:1-23; Mazmur 126:6

”Sebab Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya banyak nabi dan orang benar ingin melihat apa yang kamu lihat, tetapi tidak melihatnya, dan ingin mendengar apa yang kamu dengar, tetapi tidak mendengarnya.”

(Matius 13:17)

Perlu diketahui bahwa benih yang ditabur dalam kisah "perumpamaan tentang seorang penabur” pastilah jenis yang sama untuk setiap kondisi tanah. Namun ternyata yang membedakan hasilnya adalah jenis tanah dimana benih itu ditabur. Benih yang ditabur di pinggir jalan, di tanah yang berbatu-batu, di tengah semak duri, hasilnya sama yaitu tidak sempat tumbuh dan berbuah. Namun benih yang jatuh di tanah yang baik menghasilkan buah seratus kali lipat, enam puluh kali lipat, dan tiga puluh kali lipat.

Semua orang yang mendengarkan Firman Tuhan di satu gereja pasti mendengarkan khotbah yang sama dari Hamba Tuhan yang sama namun mengapa hasilnya berbeda untuk setiap orang? Perumpamaan tentang benih mengajarkan bahwa hasil yang diperoleh tergantung dari respon si pendengar terhadap Firman yang diterima.

Alkitab berkata bahwa kelas nabi dan orang benar sekalipun belum tentu bisa mendapat hasil yang baik dari setiap benih Firman yang ditaburkan. Ketika ada Hamba Tuhan menyampaikan visi besar yang Tuhan berikan kepadanya dalam satu forum, biasanya ada saja orang-orang yang menyepelekan bahkan melecehkan iman dari Hamba Tuhan itu. Entah itu kelas nabi atau kelas orang benar. Akhir kisahnya mudah ditebak, si Hamba Tuhan setelah melalui proses waktu akhirnya menerima bahwa visinya menjadi kenyataan sedangkan si pengejek tetap begitu-begitu saja. Tetap menjadi si pencemooh dan tidak ada kemajuan yang berarti dalam kehidupan serta pelayanannya.

Ketika kebebalan tetap dipelihara dan sifat pengejek dibiarkan tumbuh subur, pada akhirnya malah Tuhan sendiri yang membuat dirinya tidak bisa melihat dan mendengar lagi apa yang Tuhan mau untuk dia kerjakan dalam hidupnya. Ketika dalam keputusasaan mereka kemudian berteriak, "Tuhan... mengapa hidupku begini-begini saja?” Maka dengan lirih Tuhan menjawab dari surga, "Ini semua karena kebebalanmu, anak-Ku"

 

Renungan :

Seringkali berbagai pergumulan datang dalam hidup ini berulangkali karena kita tidak mau belajar dari pengalaman yang sudah-sudah. Merasa diri pintar dan mampu adalah awal untuk kejatuhan terus menerus dalam hidup ini.

 

Orang bebal bisa mendengar dan melihat namun tidak mau mengerti dan percaya, tetapi orang benar mendengar, melihat dan mengerti lalu percaya.