Renungan Harian
Beriman Kepada Manusia

Matius 8:14-17; Yeremia 17:5-6

Menjelang malam dibawalah kepada Yesus banyak orang yang kerasukan setan dan dengan sepatah kata Yesus mengusir roh-roh itu dan menyembuhkan orang-orang yang menderita sakit. Hal itu terjadi supaya genaplah firman yang disampaikan oleh nabi Yesaya : ”Dialah yang memikul kelemahan kita dan menanggung penyakit kita.”

(Matius 8:16-17)

 

Mungkin pernyataan yang menjadi judul renungan di atas terlalu ekstrim. Tetapi kenyataan menunjukkan bahwa kadangkala sebagian umat datang ke gereja bukan untuk bertemu dengan Tuhan tetapi untuk mencari pengkotbah atau publik figur atau artis yang sedang diundang melayani di tempat tersebut. Apakah ini salah? Ya..tidak juga. Wajar saja kalau orang-orang penasaran ingin melihat publik figur yang selama ini mungkin hanya dengar namanya atau lihat wajahnya di media masa.

Namun yang menjadi masalah adalah seringkali umat Tuhan terlalu bergantung pada figur tertentu sehingga terkesan imannya hanya dapat muncul kalau yang berbicara adalah Hamba Tuhan si A atau si B. Jadi kalau mau datang beribadah, mencari informasi dulu, siapa nanti yang khotbah?

Dulu pernah lagi ngetrend dimana pada saat itu kalau Hamba Tuhan "bule" yang mendoakan dirasakan lebih manjur daripada Hamba Tuhan lokal. Sehingga pernah ada satu kejadian lucu dimana seorang ibu tua ketika altar call dia maju dan berdoa berlutut dengan hati yang hancur. Ketika ada sepasang tangan ditumpangkan atas kepalanya, tiba-tiba doanya berhenti dan pada detik berikutnya dengan sigap dia menepiskan tangan itu dari kepalanya. Mengapa? Ya..karena ternyata yang mendoakan itu pendeta dalam negeri. Dia tidak suka, karena yang diharapkannya adalah penumpangan tangan dari si Hamba Tuhan bule. Ada ada saja, ya? Mudah-mudahan fenomena tersebut tidak sedang melanda antar sesama Hamba Tuhan lokal sehingga kalau si A yang mendoakan dia pasti jatuh, Tapi kalau si B yang mendoakan, biar sudah didorong habis-habisan dia tetap bertahan tidak mau jatuh. Walah....!

 

Renungan :

Mujarab atau tidaknya Firman Tuhan yang kita dengarkan sebenarnya bergantung kepada rasa lapar dan haus kita akan firman itu sendiri. Orang yang sedang lapar walau menunya tidak begitu enak tetap akan makan dengan lahapnya sehingga tubuhnya pun sehat dan kuat. 

 

Manusia hanya dapat menyenangkan hati tetapi hanya Tuhan yang mampu mengenyangkan jiwa.