Renungan Harian
Hati Yang Peduli

Nehemia 1; 1 Petrus 2:5

“Kata mereka kepadaku: "Orang-orang yang masih tinggal di daerah  sana, yang terhindar dari penawanan, ada dalam kesukaran besar dan dalam keadaan tercela. Tembok Yerusalem telah terbongkar  dan pintu-pintu gerbangnya telah terbakar." Ketika kudengar berita ini, duduklah aku menangis dan berkabung  selama beberapa hari. Aku berpuasa dan berdoa ke hadirat Allah semesta langit....” (Nehemia 1:3, 4).

 

Bencana alam gelombang tsunami yang menewaskan kurang lebih 105.000 orang di kawasan banda Aceh dan pulau Nias pada beberapa tahun yang lalu, tepatnya tanggal 26 Desember 2004 telah menyita perhatian seantero dunia. Bencana ini merupakan bencana terbesar selama satu dasawarsa. Mendengar berita ini banyak penduduk dunia mulai mengheningkan cipta, dan ambil bagian untuk meringankan beban penduduk Banda Aceh dan sekitarnya. Masyarakat dunia melalui PBB mulai mengirimkan bantuannya, posko-posko peduli Aceh pun mulai didirikan di mana-mana.

Segenap keluarga yang selamat dalam bencana ini dan masyarakat Aceh yang tinggal di luar Aceh sangat pilu hatinya. Mereka kehilangan orang-orang yang dicintainya, kehilangan sanak saudara, kehilangan anak, kehilangan ibu dan kehilangan harta benda. Kita pun saat melihat kondisi seperti itu pasti turut prihatin. Hampir 200 orang jemaat Kristen dan katolik juga terhitung tewas dan hilang dalam peristiwa itu. Pilu, sedih, dan hancur hati demikianlah suasana hati keluarga yang selamat.

Hal yang sama juga di rasakan Nehemia saat ia mendengar keadaan Yerusalem yang menjadi reruntuhan dan penduduknya menjadi orang tawanan. Tanah air yang dicintainya porak poranda, hatinya terbeban dan peduli dengan keadaan Yerusalem. Ia bersegera mencari jalan bagaimana caranya supaya bisa  membangun Yerusalem.  Barangkali kita bertanya mengapa Yerusalem harus dibangun? Saat itu bait suci ada di Yerusalem, jadi kalau kondisinya porak poranda sama dengan tidak mempedulikan rumah Allah. Jika demikian, maka hampir-hampir di sana tidak ada ibadah.

Yang ada dalam hati Nehemia adalah bagaimana supaya umat pada akhirnya kembali beribadah kepada Tuhan dan melakukan apa yang baik di mata Tuhan, dan itu bisa dilakukan jika Yerusalem di bangun kembali. Hal ini bisa kita jadikan contoh dalam hidup sehari-hari, yaitu supaya kita memiliki hati yang peduli terhadap pembangunan tubuh Kristus yaitu gereja-Nya. Sudahkah kita peduli dengan pelayanan dan ibadah di gereja? Sudah  kita peduli dengan saudara seiman yang membutuhkan bantuan? Apakah hati kita mau peduli?

 

Renungan:

Dan biarlah kamu juga dipergunakan sebagai batu hidup untuk  pembangunan suatu rumah rohani, bagi suatu imamat kudus, untuk  mempersembahkan persembahan rohani yang karena Yesus Kristus berkenan kepada Allah (1 Petrus 2:5).

 

Kesejahteraan kota dan negeri ini adalah kesejahteraan kita dan doa untuk pemulihan negeri menjadikan kita menjalankan fungsi imam atas bangsa ini.