Renungan Harian
Jangan Asal Comot!

Ezra 10; 2 Korintus 6:14

“Maka berbicaralah Sekhanya bin Yehiel, dari bani Elam, katanya kepada Ezra: "Kami telah melakukan perbuatan tidak setia terhadap Allah kita, oleh karena kami telah memperisteri perempuan asing dari antara penduduk negeri. Namun demikian sekarang juga masih ada harapan bagi Israel” (Ezra 10:2).

 

Barangkali masalah pelik bagi para muda mudi yang sudah “matang” adalah masalah jodoh. Betapa tidak, usia sudah kepala 3, bahkan 4, tetapi yang namanya jodoh itu seperti mencari jarum di dalam jerami.  Akhirnya banyak kasus yang tidak bijaksana terjadi, seperti “asal comot”. Jadi tidak terlalu penting lagi mengamati-amati dan menilai siapa yang kelak menjadi pendamping hidup. “Asal manusia,” itulah yang akhirnya menjadi jurus terakhir untuk menggaet pasangan hidup.

Padahal kalau kita lihat dengan apa yang terjadi dengan bangsa Israel pada zaman Ezra, disebutkan bahwa jemaah orang Israel berada dalam kesedihan sebab mereka telah melanggar firman Tuhan dengan mengizinkan anak-anak Israel menikah dengan perempuan asing. Penyesalan selalu datang belakangan. Tetapi kalau sudah terjadi, apa yang harus mereka lakukan?

Saudara, kita melihat kasus yang sama dengan apa yang terjadi dengan anak-anak Tuhan. Kita tidak terlalu perlu lagi kadang memperhatikan siapakah orang yang menjadi jodoh. Yang penting orangnya baik, setia, jujur, dan yang penting… tidak pelit! Tetapi itu bukanlah dasar yang benar. Dasar yang benar adalah seiman dan cinta Tuhan. Masihkah pandangan kolot ini masih kita pegang di era globalisasi seperti sekarang ini? 

Kita harus kembali kepada prinsip firman Tuhan. Memang banyak kasus bagaimana orang Kristen sendiri yang merasa pernikahannya tidak bahagia tatkala menikah dengan orang yang seiman. Ini masalah oknum. Memang di antara orang Kristen sendiri tidak semuanya akan menjadi suami atau istri yang baik. Semuanya membutuhkan tempaan supaya mereka dapat berfungsi dengan benar dan baik. Tetapi yang harus kita camkan adalah pemulihan pasangan hidup harus didasarkan kepada pasangan yang seimbang. Sebab kita adalah anak terang yang harus berjodoh juga dengan anak terang. Seperti Alkitab katakan, “Janganlah kamu merupakan pasangan yang tidak seimbang dengan orang-orang yang tak percaya. Sebab persamaan apakah terdapat antara kebenaran dan kedurhakaan? Atau bagaimanakah terang dapat bersatu dengan gelap” (2 Korintus 6:14)?

 

Renungan:

Lebih baik tidak menikah daripada menikah dengan orang yang salah. Kita mungkin terbiasa melihat indahnya bulan madu saja, tetapi belum melihat konflik di dalamnya. Tetapi kalau kita mendapatkan jodoh yang tepat maka rumah tangga kita akan berbahagia.

 

Menikah dengan orang yang tidak tepat itu seperti menarik neraka ke bumi.