Renungan Harian
Jangan Berdalih!

1 Samuel 15:1-35; Roma 5:19      

“Lalu datanglah firman TUHAN kepada Samuel, demikian: "Aku menyesal, karena Aku telah menjadikan Saul raja, sebab ia telah berbalik dari pada Aku dan tidak melaksanakan firman-Ku."  Maka sakit hatilah Samuel dan ia berseru-seru kepada TUHAN semalam-malaman” (1Samuel 15:10,11)

 

Penyakit yang umum di masyarakat dalam kaitannya dengan hukum adalah berdalih. Seseorang yang bersalah pun walau sudah nyata-nyata bersalah, seringkali berkelit dan berdalih, bahkan dengan keuangan yang ada menyewa seorang pengacara untuk memenangkan perkaranya. Hal ini biasanya karena yang bersangkutan mau menjaga harga dirinya. Sehingga tidak heran, pada akhirnya hukum muncul terbalik: yang salah bisa benar, yang benar bisa jadi salah.

Pernahkah kita melihat anak kecil yang memecahkan pot bunga, teman di sebelahnya mulai menyalahkannya, tetapi ia tidak mau disalahkan. Sebaliknya malah ia menyalahkan teman sebelahnya.

Adam ketika makan buah larangan menyalahkan Hawa, berikutnya hawa menyalahkan ular.  Inilah sifat dasar manusia: tidak mau mengakui kesalahan.

Dalam renungan hari ini diungkapkan, Tuhan meneguhkan Saul dan umat Israel. Ia akan membalas apa yang dilakukan orang Amalek kepada mereka. Tuhan menyuruh bersiap dan berkata:  “......tumpaslah   segala yang ada padanya, dan janganlah ada belas kasihan  kepadanya. Bunuhlah semuanya, laki-laki maupun perempuan, kanak-kanak maupun anak-anak yang menyusu, lembu maupun domba, unta maupun keledai" (ayat 2,3).   

Dengan jelas Tuhan berkata tumpaslah segalanya, tanpa sisa, tetapi Saul hanya menumpas sebagian dan mengambil jarahan. Ketika ditegur Samuel ia berdalih: “Tetapi rakyat mengambil dari jarahan, itu pun untuk korban persembahan kepada TUHAN, Allahmu, di Gilgal" (ayat 21).    

Jawabannya cukup diplomatis. Ia menuduh rakyatnya sendiri dan mengatakan bahwa apa yang dilakukan rakyatnya itu benar. Sebab jarahan itu akan dipakai untuk korban kepada Tuhan. Tetapi apapun dalihnya Saul tetap salah, sebab ia tidak melakukan perintah Allah.

Sepertinya Saul mempersiapkan sesuatu yang rohani, tetapi sesungguhnya ia sedang merohanikan sesuatu yang tidak rohani. Kambing domba itu untuk kepentingannya sendiri, namun ia berdalih untuk Tuhan. Hal itu dilakukannya hanya untuk memuaskan keinginan nafsunya. Namun Tuhan tidak pernah berkompromi dengan dosa.

 

Renungan:

Kapan seseorang berdalih ? ketika ia mementingkan dirinya sendiri dan tidak mengakui kesalahnnya. Kapan lagi ? Ketika ia tidak mau mengampuni saudaranya atau orang yang memusuhinya, alasannya: “saya terlalu disakiti,  saya cukup menderita karenanya!”  Bagaimana dengan saudara hari ini?

 

Lakukan Firman Tuhan tepat seperti yang dikatakan-Nya.