Renungan Harian
Hidup Adalah Perang

1 Samuel 14:47-52; Ibarni 4:11

“Hebat peperangan melawan orang Filistin selama zaman Saul…..” (1 Samuel 14:52).

 

 

Today in the Word pada edisi 19 Juni 1992 melaporkan: sekelompok sarjana dan sejarahwan mengumpulkan data dan memberikan informasi mengejutkan seperti ini: sejak tahun 3600 SM, dunia hanya mengenal 292 tahun masa damai! Selama periode itu telah terjadi 14.351 perang besar maupun kecil, di mana 3,64 milyar manusia terbunuh. Jumlah kerugian material diperkirakan setara dengan sabuk emas yang dililitkan mengitari bumi dengan lebar 97,2 mil (157 Km) dan ketebalan 33 ft (10 m).

Tentunya data itu perlu ditambah lagi mengingat kita sekarang berada pada tahun 2017!

Di belahan dunia manapun perang selalu ada, tidak terkecuali dalam hidup kita. Mungkin kalau dipilih, mana di antara musuh Israel yang paling tangguh, pastilah kita setuju memilih Filistin. Bangsa ini memang dikenal sangat agresif dan mereka adalah bangsa yang tangguh. Kalau Israel tidak disertai Allah, bangsa Filistin sudah sejak dahulu kala menghapuskan bangsa Israel dari muka bumi ini. 

Setiap dari kita mempunyai perang sendiri-sendiri. Kita bergumul semenjak kita dilahirkan di bumi ini. Dan kita merasa bahwa peperangan dalam hidup kita tak pernah berhenti. Karena itu banyak orang dari kecil sampai dewasa putus asa lalu mengambil jalan pintas untuk menyudahi pertempuran dengan cara membunuh dirinya sendiri. Cara yang bodoh dan salah! Kita disertai Allah. Kita berada pada pertempuran yang sebenarnya kita tahu bahwa pertempuran itu telah dimenangkan. Namun ada proses untuk menuju kemenangan. Pertempuran membutuhkan waktu yang panjang. Selama kita berdiam di dalam tubuh ini, pertempuran hidup takkan pernah selesai. Tetapi Allah sudah menjamin kemenangan bagi kita.

Satu hal yang patut dicamkan bahwa Saul mengalami kekalahan secara fisik maupun rohani, karena dia tidak taat terhadap firman Allah. Kalau dia tetap konstan tinggal dalam ketaatan, bukannya tidak mungkin bahwa dia akan tetap menjadi raja. Padahal sejak dia pertama kali menjadi raja, Allah menyertainya. Lihat saja bagaimana Alkitab mencatat bahwa Saul mulanya adalah seorang yang melakukan perbuatan yang gagah perkasa (ay. 48), namun hancur oleh kelakuannya sendiri.

 

Renungan:

Kita berada dalam kawasan peperangan. Medan perang itu bisa di rumah, kantor, atau di mana saja kita berada. Tetapi ingatlah bahwa Allah bersama dengan kita. Jangan hidup dalam ketidaktaatan seperti Saul.

 

Hidup dalam ketaatan adalah kunci kemenangan.