Renungan Harian
Sepotong Kebenaran

Hakim-Hakim 17:1-13; Roma 10:3, 4

“Pada zaman itu tidak ada raja di antara orang Israel; setiap orang berbuat apa yang benar menurut pandangannya sendiri” (Hakim-Hakim 17:6).

 

Orang berbuat apa yang menurutnya benar. Ini yang terjadi pada zaman Hakim-Hakim. Karena itulah Mikha membuat berhala dan menurutnya ini benar. Apalagi dia mencoba membenarkan dirinya sendiri dengan “membajak” seorang Lewi untuk dijadikan imam dengan imbalan sepuluh uang perak. Celakanya kedua orang ini sama-sama mengira bahwa apa yang dilakukannya benar.

Setiap orang mempunyai pendirian. Setiap orang mempunyai pendapat masing-masing. Tetapi bukan berarti bahwa dia berhak mendirikan kebenaran dari pendiriannya itu. 

Ada sebuah cerita seorang Musafir yang sedang memungut “kebenaran”. Seorang iblis yunior dengan gusar berkata kepada seniornya, “Kapten, mengapa Anda tidak marah dan mencoba menghalangi musafir itu memungut kebenaran?” Sambil tersenyum, iblis yang dipanggil “kapten” itu berkata, “Aku biarkan! Asal yang dipungut itu cuma sepotong kebenaran!”

Dengan sepotong kebenaran itu, manusia dengan pongahnya berkata bahwa dia telah menemukan seluruh kebenaran. Dan sepotong kebenaran itu tidak lebih kecil bahayanya dengan kesesatan.

Kebenaran yang sempurna ada di dalam firman Allah. Pengalaman yang Anda dapatkan tidak dapat dijadikan landasan suatu kebenaran. Dan inilah kesalahan yang sering terjadi. Mentang-mentang punya banyak pengalaman lalu dengan gegabah menuliskannya menjadi dogma. Memang meyakinkan, apalagi pengalamannya itu sungguh spektakuler, dan celakanya orang Kristen sendiri banyak yang menyukai perkara yang spektakuler, tanpa mengeceknya kembali menurut standar firman Tuhan yang benar.

Apa yang dilakukan Mikha dan orang Lewi menurutnya adalah benar. Mereka memang kehilangan tuntunan, sebab tidak ada nabi pada saat itu. tetapi bukan berarti mereka dengan seenaknya mendirikan kebenaran sendiri. Di sinilah letak kesalahan banyak orang Kristen.

 

Renungan:

Firman Allah adalah kebenaran yang sempurna. Berikanlah tempat kepada firman Tuhan sebagai yang terutama. Jangan mendirikan kebenaran dari sepotong kebenaran.

 

Mendirikan kebenaran dari sepotong kebenaran membuat orang menjadi tersesat.