Renungan Harian
Hari Yang Pahit

Amos 8:9-14; 2 Petrus 3:9

”Aku akan mengubah perayaan-perayaanmu menjadi perkabungan, dan segala nyanyianmu menjadi ratapan. Aku akan mengenakan kain kabung pada setiap pinggang dan menjadikan gundul setiap kepala. Aku akan membuatnya sebagai perkabungan karena kematian anak tunggal, sehingga akhirnya menjadi seperti hari yang pahit pedih.”

(Amos 8:10)

 

1 Oktober kemarin bangsa Indonesia memperingati hari kesaktian Pancasila, setelah tanggal 30 September memperingati hari "kepahitan", yaitu hari perkabungan nasional, Peristiwa berdarah itu terjadi secara merata di seluruh nusantara pada tahun 1965, yang mana saat itu ada peristiwa gerakan 30 September PKI. Puluhan ribu orang meninggal dunia dalam martir dan kesia-siaan. Namun hingga hari ini, hari kepahitan itu masih di rasakan beberapa orang di bebagai pelosok nusantara, sebab sederetan daftar bencana dan beberapa gejolak masyarakat yang masih menjadi warna khas bangsa ini. Dan sepertinya bangsa ini bertubi-tubi mendapatkan ujian yang hebat.

Sehubungan dengan kondisi yang ada, maka sikap apakah yang harus dilakukan anak-anak Tuhan ? apakah berdiam diri dan berpangku tangan atas semua yang terjadi ? Tentunya tidak, sebab kesejahteraan bangsa ini adalah kesejahteraan kita pula, seperti nasehat firman Tuhan : ”Usahakanlah kesejahteraan kota ke mana kamu Aku buang, dan berdoalah untuk kota itu kepada TUHAN, sebab kesejahteraannya adalah kesejahteraanmu” (Yeremia 29:7). Untuk itu, biarlah kita datang kepada Tuhan untuk membawa bangsa ini di hadapanNya. Memohon belas kasihan kepada Tuhan agar bangsa ini mengalami pemulihan sehingga bangsa ini tidak mengalami hari yang pahit dan pedih.

Apabila kita bersikap acuh tak acuh atas keadaan bangsa ini, maka jangan heran jika keadaan bangsa ini tetap dalam berbagai ancaman; baik itu bencana alam maupun situasi masyarakat yang kurang bersahabat. Oleh sebab itu situasi seperti ini biarlah menjadi beban doa yang harus pikul untuk dibawa kepada tuhan, supaya hari kepahitan ini jangan ada di sekeliling kita. Dan yang terpenting kita masing-masing hidup dalam pertobatan.

 

Renungan :

Tuhan tidak lalai menepati janji-Nya, sekalipun ada orang yang menganggapnya sebagai kelalaian, tetapi Ia sabar terhadap kamu, karena Ia menghendaki supaya jangan ada yang binasa, melainkan supaya semua orang berbalik dan bertobat (2 Petrus 3:9).

 

Jangan biarkan hari kepahitan ada dalam hidupmu, bangkitlah dan rasakan kemenenangan dari Tuhan.