Renungan Harian
Kebaikan Bapa Di Surga

Hosea 11; Galatia 4:6

”Umat-Ku betah dalam membelakangi Aku; mereka memanggil kepada Baal dan berhenti meninggikan nama-Ku.” 

(Hosea 11:7)

 

Gambaran yang paling sempurna tentang Allah kita adalah gambaran bahwa Allah itu adalah Bapa kita. Seringkali kita tidak mendapatkan figur yang baik tentang bapa duniawi kita. Tidak sedikit bahkan orang Kristen yang masih belum bisa memaafkan bapanya sendiri. Jadi bila kita berkenalan dengan Allah kita sebagai Bapa kita, marilah kita mengubah pandangan kita tentang figur dan citra seorang bapa. Boleh jadi bapa kita di bumi ini begitu jahatnya, tetapi Bapa kita di surga Dia adalah Bapa yang terbaik. Dia mempedulikan kita. Dia menyediakan waktuNya untuk bercakap-cakap dengan kita. Bila kita merindukan dekapan-Nya, Dia selalu datang menghampiri kita. Dia selalu menganggap kita adalah anak-Nya yang paling berharga.

Tetapi Bapa kita pernah disakiti oleh umatNya sendiri. Kalau kita membaca sepanjang Perjanjian Lama, maka kita akan melihat kisah umat Israel yang menyakiti hati Bapa di surga. Betapa rindunya Bapa di surga membawa anak-anakNya kepada jalanNya dan memimpin mereka pada berkatNya yang melimpah. Mereka disayangi dan dibelaiNya. Tetapi apa balasan orang-orang yang tidak tahu berterima kasih itu? Mereka membelakangi Tuhan. Bahkan Alkitab berkata bahwa mereka betah membelakangi Tuhan. Mereka betah mengecewakan Bapa di surga. Mereka betah berbuat dosa dan menginjak-nginjak kasih karuniaNya. Tetapi sekali lagi kita melihat figur Bapa yang luar biasa. Bapa kita di surga selalu sabar. Dia menantikan saat di mana mereka akan bertobat dan mereka akan dipulihkan. Tetapi itu tidak pernah terjadi. Dan Bapa harus mengutus AnakNya sendiri supaya kita bisa menikmati kasih karuniaNya dan supaya kita tinggal bersama denganNya selama-lamanya. Haleluya!

Kalau kita mendapatkan perlakuan yang buruk dari bapa kita di bumi ini, ampunilah dia. Sebab kita mempunyai Bapa yang luar biasa dan Dia adalah Bapa kita di dalam surga. Dan Yesus telah menyatakan Bapa yang luar biasa itu.

 

Renungan :

Marilah kita taat dan mengasihi Bapa kita di surga. Jangan lagi kita mendukakan hatiNya. Sudah cukup hatiNya disakiti oleh umat Israel pada masa Perjanjian Lama. Dan kini saatnya kita menikmati persekutuan yang indah dengan Bapa kita di surga.

 

Kita punya Bapa di surga yang senantiasa mendampingi dan mengasihi kita.