Renungan Harian
Sampaikan Suara Kebenaran

Yehezkiel 22; 2 Timotius 4:2

"Aku mencari di tengah-tengah mereka seorang yang hendak mendirikan tembok atau yang mempertahankan negeri itu di hadapan-Ku, supaya jangan Kumusnahkan, tetapi Aku tidak menemuinya."

(Yehezkiel 22:30)

 

Yerusalem yang dimaksudkan sebagai kota kudus dan pusat pemerintahan dimana segala macam hikmat dan kebijaksanaan muncul di sana telah berubah menjadi kota yang penuh darah, kekerasan serta kefasikan. Imam-imam mereka memakai jabatan untuk keuntungan pribadi serta ikut-ikutan menyerahkan diri kepada dosa. Umat Tuhan yang berbuat dosa dibiarkan bahkan cenderung memaklumi perbuatan tersebut. Yang penting kehidupan mereka sebagai imam terus diperhatikan oleh umat Israel. Akibatnya, umat Tuhan tidak takut akan Allah atau hukumanNya meskipun mereka tetap hidup dalam dosa.

Menyikapi semua hal itu Tuhan mencari seorang saja yang mau berusaha menuntun umat Israel kembali kepada Allah. Tapi tragis dan ironisnya, Alkitab berkata bahwa Tuhan tidak menemukan seorangpun di antara sekian banyak pemimpin rohani dan umat Tuhan itu yang mau mempertahankan agar tidak roboh. Tidak ada seorangpun yang berseru melawan kebobrokan rohani dan moral. Tidak seorangpun yang memimpin dalam doa dengan kerendahan hati, mohon ampun serta berusaha mencari Allah dengan sungguh-sungguh demi pembaharuan. Semua orang sibuk dengan urusan, kepentingan dan dosanya masing-masing, entah itu imam atau umat.

Kejadian tersebut sekaligus menjadi renungan dan peringatan bagi gereja dan umat Tuhan dewasa ini. Terlalu sering banyak orang yang baik berdiam diri karena takut, segan atau berkompromi daripada mengambil resiko menyampaikan suara kebenaran dengan segala konsekuensinya. Akibatnya, walaupun para jemaat sudah ribut tentang tingkah polah beberapa pemuka jemaat dalam gereja, tidak ada satu sikap tegas yang berani dilakukan oleh gereja untuk menegur yang bersangkutan. Mengapa? Sebab biasanya, mereka adalah orang-orang atau kelompok orang berduit yang menjadi donatur utama gereja tersebut. Ada kekuatiran bila teguran disampaikan maka nanti orang tersebut bisa-bisa keluar dari gereja ini sehingga hilanglah beberapa donatur yang mendanai seluruh kegiatan operasional dalam pelayanan. Atau orang tersebut sudah banyak memberi secara pribadi kepada pendetanya. Sehingga kalimat yang muncul adalah, "Yah..biarkanlah mereka berurusan dengan Tuhan. Nanti Roh Kudus sendiri yang akan menegur. Jangan tegur, nanti mereka keluar!"

 

Renungan :

Pelayanan memang membutuhkan dana yang diperoleh dari para donatur tertentu. Seandainya orang tersebut hidup dalam dosa beranikah kita menegurnya (dalam kasih) dengan konsekuensi-konsekuensi tertentu ?

 

Kadangkala kebenaran harus berhadapan dengan kebutuhan hidup, tetapi para pembela kebenaran akan diberkati Tuhan.