Renungan Harian
Berpasrah KepadaNya

Mazmur 31; Roma 9:20-21

“Ke dalam tangan-Mulah kuserahkan nyawaku; Engkau membebaskan aku, ya TUHAN, Allah yang setia” (Mazmur 31:6)

 

Pasrah kepada Tuhan berarti berserah sepenuhnya kepada-Nya. Mengapa setiap orang perlu pasrah kepada Tuhan? Satu hal yang harus kita ketahui, Raja Daud juga pernah mengalami masa-masa yang sangat amat sulit, namun di tengah-tengah masa sulit itu dia berpasrah kepada Tuhan.

Berpasrah di sini bukan sekedar menyerahkan diri kita di saat-saat persoalan melanda tetapi juga dalam kehidupan sehari-hari.

Jika kita berserah maka kita akan dibentuk menjadi manusia yang sesuai dengan kehendak-Nya. Memang tidak mudah menyerahkan hidup ini untuk dibentuk Tuhan, tetapi itulah caranya supaya kita menjadi manusia yang berkenan kepada-Nya.

Jadi kita perlu untuk berserah atau berpasrah untuk dibentuk. Kita harus ingat akan perumpamaan tentang tanah liat di tangan tukang periuk (Yeremia 18:1-17). Tukang periuk berhak atas tanah liat yang akan dibentuknya. Jika di dalam tanah liat tersebut ada kerikil, maka tukang periuk itu akan membersihkannya. Dia akan memisahkan batu-batu dan akar yang melekat di dalam tanah liat. Hal ini kembali lagi kepada proses pembentukan dari tanah liat tersebut. Tukang periuk akan membentuk tanah liat tersebut untuk menjadikannya suatu alat yang berguna menurut pemandangannya. Jika dalam proses pembentukannya tanah liat tersebut rusak, maka dengan segera dia akan menghancurkannya dan membentuknya lagi dengan model yang lain. Tanah liat tidak akan pernah memberontak pada saat diproses. Setelah dilihatnya bagus, maka proses yang terakhir adalah pembakaran. Dan hasilnya, sungguh sangat baik di pandang mata. Begitupun dengan kita, izinkanlah Tuhan membentuk kita. Dan marilah kita berserah pasrah seperti tanah liat di tangan tukang periuk. Haruskah kita berkata kepada Tuhan, “jangan Engkau bentuk aku, Tuhan”, atau anda akan berkata “jangan sekarang Tuhan!”. Atau bahkan kita akan berkata “lima tahun lagi, Tuhan?”. Semua jawaban ada di dalam diri anda sendiri.

 

Renungan:

Marilah kita sekarang belajar untuk mengatakan “biarlah kehendak-Mu yang terjadi ya Tuhan, atas hidupku” 

 

Bentukan Tuhan memang kadang menyakitkan tetapi akhirnya membawa kita kepada kemuliaan.