Renungan Harian
Mengatasi Frustasi

Mazmur 10; Matius 7:7

“Mengapa Engkau berdiri jauh-jauh, ya Tuhan, dan menyembunyikan diri-Mu dalam waktu-waktu kesesakan” (Mazmur 10:1)?

Seorang pemilik toko kelontong kecil mengadapi tekanan dari pihak kota madya dan investor department store menyangkut pembelian setiap toko di jalan itu. Karena berkali-kali negoisasi tidak berhasil karena memang toko itu tidak bermaksud dijual, maka pihak investor merasa jengkel lalu dia membuka sebuah toko besar di sebelah toko kelontong tersebut dengan tulisan besar-besar di atasnya: GRAND OPENING.

Karena frustrasi juga pedagang kecil itu bertindak dengan cerdik. Dia menuliskan sebuah tulisan yang besar juga di atas pintu tokonya: PINTU MASUK.

Mungkin kita berkata bahwa itu adalah cara yang cerdik untuk mengatasi rasa frustrasinya. 

Seberapa banyak di antara kita yang mengalami yang sama dengan orang ini: frustrasi. Kita frustrasi karena banyak hal. Bisa jadi karena gaji tidak naik-naik atau karena anak yang tidak mau taat kepada kita. Atau bisnis kita yang sedang menukik tajam dan siap menghujam bumi. Kita lalu berseru kepada Allah dan memohon kepada-Nya agar Dia campur tangan. Tetapi apa yang terjadi? Allah sepertinya tidak mendengarkan doa kita. Kita merasa bahwa Allah terlalu sibuk sehingga Dia enggan diganggu. Ini pula yang dihadapi oleh Daud. Dia memang sedang jengkel kepada orang fasik, tetapi kok sepertinya Allah itu diam saja? Tetapi Daud tidak kenal lelah berseru kepada Allah dan memohon pertolongan-Nya. Dia tidak berhenti memohon kepada Allah sampai Yang Maha-Tinggi turun menolongnya.

Camkanlah bahwa Allah itu tidak pernah mengabaikan kita. Dia tidak lalai mengulurkan tangan-Nya kepada kita. Hanya saja kita sering menjadi tidak sabar. Kita sih inginnya Allah itu segera turun dari surga saat kita selesai berkata “amin”. Kita seringkali memaksa Allah masuk ke dalam lampu wasiat supaya saat kita sosok sewaktu-waktu Dia akan muncul dan sambil tersenyum berkata, “Apa permintaanmu, anak-Ku?” Ini seperti Aladin dengan lampu ajaibnya! Salah besar kalau kita berpikiran seperti ini. Allah kita tahu waktu yang terbaik buat kita. Dia tahu apa yang harus dilakukannya. Tetapi kita memaksa-Nya untuk bertindak seperti jin dalam lampu wasiat.

 

Renungan:

Ada waktunya di mana kita akan melihat pintu itu terbuka lebar dan kita akan menikmati berkat-berkat-Nya. Tidak selamanya ketidakadilan itu dibiarkannya. Dia akan menjalankan keadilan bagi kita.

 

Allah bertindak yang terbaik untuk anak-anak-Nya.