Renungan Harian
Ibadah Yang Benar

Mazmur 2; Filipi 2:12

“Beribadahlah kepada TUHAN dengan takut dan ciumlah kaki-Nya dengan gemetar, supaya Ia jangan murka dan kamu binasa di jalan, sebab mudah sekali murka-Nya menyala. Berbahagialah semua orang yang berlindung pada-Nya” (Mazmur 2:11, 12).

 

Salah satu doktrin kuat yang menjadi dasar keselamatan kita adalah kasih. Alkitab berkata, “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal” (Yohanes 3:16). Siapa sih yang tidak kenal dengan ayat ini? Atau dalam bahasa gaulnya, “Hari gini gak tahu keselamatan di dalam Yesus?”

Oh kita bermegah di dalam kasih Allah. Kita amat bersukacita karena memiliki Allah yang tidak pernah menjauhkan kasih setia-Nya dari kita. Di setiap guratan di dalam gedung gereja kita melihat tulisan “Allah adalah kasih.” Dan karena kasih Allah inilah yang sungguh menarik perhatian kita sehingga kita diselamatkan.

Tetapi semakin lama kita kurang memperhatikan kasih Allah lagi. Kita tidak lagi gentar terhadap kehadiran Allah. Kita tidak lagi beribadah dengan sungguh-sungguh kepada-Nya. Apakah karena kita tidak lagi memahami kasih Allah dengan benar? Kita menganggap bahwa gereja hanyalah sebuah tempat hiburan semata dan bukannya tempat pemujaan kepada Allah yang benar. Dan kita selalu bersandar kepada kasih Allah sehingga kita cenderung seenaknya saja datang beribadah di gereja.

Kita semakin tidak disiplin saat berada dalam gedung gereja. Makan permen karet, datang terlambat, pulang awal (supaya tidak berdesak-desakan), atau kirim-kiriman pesan singkat (sms) dengan orang lain? Apakah karena kita menganggap bahwa Allah itu penuh dengan kasih sehingga kita bisa seenaknya saja berbuat seperti itu? Apakah kita selama ini akan terus berbuat kesalahan dan mengulanginya terus karena kita mempunyai prinsip bahwa Allah itu penuh dengan kasih? 

Saudara, memang kita hidup karena kasih Allah, tetapi Alkitab juga mengajarkan supaya kita juga datang dan beribadah kepada-Nya dengan takut dan gentar. Mencium kaki-Nya itu sama artinya dengan penundukan diri secara total dan menyerah kepada-Nya dengan rasa hormat dan takut. Apakah kita telah memiliki hati semacam ini?

 

Renungan:

Gereja memang telah mengalami krisis takut dan hormat akan Allah. Karena itu kita yang mengerti dan memahami akan hal ini hendaknya mencetuskan api ini supaya nama Tuhan dimuliakan di dalam hidup kita.

 

Ibadah yang benar jika dibarengi dengan rasa takut dan hormat kepada Allah.